PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN (Teknologi Pembelajaran PAI”)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Teknologi adalah salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam masa yang serba maju ini dan teknologi akan semakin berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan dengan timbul banyaknya kebutuhan – kebutuhan dalam kehidupan manusia.
Kemajuan teknologi tidak hanya dimanfaatkan dalam bidang ekonomi, politik ataupun industri akan tetapi juga pada bidang pendidikan, lebih – lebih pada Pendidikan Agama Islam. Bagi lembaga pendidikan, pengelolaan lembaga akan lebih muda dan peraktis Karena teknologi dapat diterapkan dalam berbagai aspek pendidikan, seperti dalam aspek pengembangan, aspek penerapan dan juga aspek penilaiaan.
Dari sini lah peningkatkan mutu pendidikan tidak lepas dari kecakapan sumber daya manusia untuk melakukan terobosan baru dalam mengelola pendidikan. Pengorganisasian dalam pendidikan banyak aspek yang harus dibenahi dalam manajemen. Dengan manajemen yang baik dan sumber daya manusia yang memadahi peningkatan kualitas dan mutu pendidikan dapat dicapai dengan baik. diharapkan teknologi pembelajaran akan lebih mempermudah pemahaman siswa dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah. Untuk itu dalam makalah ini akan di bahas mengenai pengertian, fungsi, juga manfaat dari teknologi pembelajaran PAI.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari pengembangan teknologi pembelajaran PAI ?
2.      Apakah fungsi dari pengembangan teknologi pembelajaran PAI ?
3.      Apakah manfaat dari pengembangan teknologi pembelajaran PAI ?

C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui pengertian pengembangan teknologi pembelajaran PAI
2.      Untuk mengetahui fungsi pengembangan teknologi pembelajaran PAI
3.      Untuk mengetahui manfaat teknologi pembelajaran PAI


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Pengertian Pengembangan Teknologi Pembelajaran PAI
Dalam mendefinisikan pengembangan teknologi pembelajaran ada beberapa pendapat diantaranya adalah:
Pertama, pengembangan teknologi pembelajaran adalah penerapan secara sistematik strategi dan teknik yang diambil dari konsep ilmu perilaku dan ilmu yang bersifat fisik, serta pengetahuan lain untuk keperluan pemecahan masalah pembelajaran.[1]
Kedua, pengembangan teknologi pembelajaran adalah pengembangan, penerapan dan penilaian sistem–sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia.
Ketiga, pengembangan teknologi pembelajaran adalah pemikiran yang sistematis tentang pendidikan, penerapan, metode problem solving dalam pendidikan, yang dapat dilakukan dengan alat–alat komunikasi modern.[2]
Keempat, pengembangan suatu cara atau suatu metode yang digunakan oleh seorang pendidik dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan baik menggunakan alat media atau disebut hardware maupun yang lebih penting dari itu yaitu software, sehingga dalam mendidik peserta didik mereka dapat menerima materi yang diberikan oleh pendidik dengan rasa senang bukan terpaksa.[3]
Kelima, pengembangan teknologi pembelajaran adalah suatu komunikasi yang sangat pesat yang dimanfaatkan dalam pendidikan, adapun dalam berkomunikasi yang diutamaka adalah media komunikasi yang berupa alat – alat teknologi atau disebut hardware.
Dari beberapa definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan terknologi pembelajaran PAI adalah suatu cara atau metode yang sistematis yang diharapkan nantinya peserta didik dapat menerima materi Pendidikan Agama Islam dengan baik, dengan rasa senang dan tanpa paksaan.
Pengembangan teknologi pembelajaran merupakan hal yang sangat mendukung dalam dunia pendidikan. Pengembangan teknologi pembelajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan dan organisasi serta pengelolaan cara–cara pemecahan masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi belajar yang memiliki tujuan dan disengaja.
Kemajuan teknologi dewasa ini dan di masa yang akan datang terutama dibidang informasi dan komunikasi memudahkan seseorang untuk berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya, akan semakain intensif. Demikian juga yang terjadi di Indonesia dan negara-negara di dunia. Globalisasi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.[4]
Pada era globalisasi, ada kecenderungan kuat terjadinya proses universalisasi yang melanda seluruh aspek khidupan manusia. Salah satu implikasi penyeragaman terlihat dengan munculnya gaya hidup global seperti makanan, pakaian dan musik. Anak-anak kecil yang mengenal film-film kartun dari berbagai negara, kita sudah banyak mengenal tren dari negara-negara lain, contoh nyata bahwa arus globalisasi tidak terbendung di negara kita.[5]
 Banyak hal yang perlu di cermati agar sebagai bangsa kita tidak ketinggalang oleh hala-hal yang baru, yang terjadi secara global sehingga kita dapat beradaptasi dengan negara-negara di dunia. Di sisi lain kita juga harus punya filter yang kuat agar pengaruh globalisasi yang negatif tidak mengganggu kehidupan bangsa kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai  luhur, budi pekerti dan memiliki budaya yang sarat dengan nilai kebangsaan. Hal ini penting agar kita menjadi bangsa yang bermartabat tanpa harus ketinggalang dengan negara-negara lain.[6]
Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meniggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini. Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatani kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melakukan usaha-usaha yang nyata kemudian bisa diterapkan dalam mendidik siswanya. Kemudian ruang lingkup pengembangan teknologi pembelajaran ini meliputi; teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi berbasis komputer, dan multimedia[7]
1.      Teknologi Cetak
Teknologi Cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan seperti buku-buku, bahan-bahan visual yang statis, terutama melalui pencetakan mekanis atau photografis. Teknologi ini menjadi dasar untuk pengembangan dan pemanfaatan dari kebanyakan bahan pembelajaran lain. Hasil teknologi ini berupa cetakan. Teks dalam penampilan komputer adalah suatu contoh penggunaan teknologi komputer untuk produksi. Apabila teks tersebut dicetak dalam bentuk “cetakan” guna keperluan pembelajaran merupakan contoh penyampaian dalam bentuk teknologi cetak.
Secara khusus, teknologi cetak/visual mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a.       Teks dibaca secara linier
b.      Biasanya memberikan komunikasi satu arah yang pasif
c.       Berbentuk visual yang statis
d.      Pengembangannya sangat bergantung kepada prinsip-prinsip linguistik dan persepsi visual
e.       Keduanya berpusat pada pembelajar, dan
f.       Informasi dapat diorganisasikan dan distrukturkan kembali oleh pemakai.
2.      Teknologi Audio-Visual
Teknologi Audio-Visual merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan dan elektronis untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Pembelajaran audio-visual dapat dikenal dengan mudah karena menggunakan perangkat keras di dalam proses pengajaran. Peralatan audio-visual memungkinkan pemproyeksikan gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang berukuran besar. Pembelajaran audio-visual didefinisikan sebagai produksi dan pemanfaatan bahan yang berkaitan dengan pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus bergantung kepada pemahaman kata-kata dan simbol-simbol sejenis.
Pada awal perkembangan teknologi pendidikan. Istilah dan definisi teknologi secara formal berhubungan dengan teknologi pendidikan pada saat itu adalah “pengajaran visual”. Yang dimaksud dengan pengajaran visual adalah kegiatan mengajar dengan menggunakan alat bantu visual yang terdiri dari gambar, model, objek, atau alat-alat yang dipakai untuk menyajikan pengalaman konkret melalui visualisasi kepada siswa.[8] Tujuan penggunaan alat bantu visual adalah memperkenalkan, menyusun, memperkaya, atau memperjelas konsep-konsep yang abstrak, dan mengembangkan sikap yang diinginkan, serta mendorong timbulnya kegiatan siswa lebih lanjut.
Secara khusus, teknologi audio-visual cenderung mempunyai karakteristik sebagai berikut; bersifat linier, menampilkan visual yang dinamis, secara khas digunakan menurut cara yang sebelumnya telah ditentukan oleh desainer/pengembang, cenderung merupakan bentuk representasi fisik dari gagasan yang riil dan abstrak, dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi tingkah laku dan kognitif, sering berpusat pada guru, kurang memperhatikan interaktivitas belajar siswa.
3.      Teknologi Berbasis Komputer
Teknologi Berbasis Komputer merupakan cara-cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor. Pada dasarnya, teknologi berbasis komputer menampilkan informasi kepada pembelajar melalui tayangan di layar monitor. Berbagai aplikasi komputer biasanya disebut “computer-based intruction (CBI)”, “computer assisted instruction (CAI”), atau “computer-managed instruction (CMI)”. Aplikasi-aplikasi ini hampir seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajaran terprogram, akan tetapi sekarang lebih banyak berlandaskan pada teori kognitif. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat bersifat; 1) tutorial, pembelajaran utama diberikan, 2) latihan dan pengulangan untuk membantu pembelajar mengembangkan kefasihan dalam bahan yang telah dipelajari sebelumnya, 3) permainan dan simulasi untuk memberi kesempatan menggunakan pengetahuan yang baru dipelajari, dan 4) sumber data yang memungkinkan pembelajar untuk mengakses sendiri susunan data melalui tata cara pengakasesan (protocol) data yang ditentukan secara eksternal.
Teknologi komputer, baik yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.       Dapat digunakan secara secara acak, disamping secara linier
b.      Dapat digunakan sesuai dengan keinginan Pembelajar, disamping menurut cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya.
c.       Gagasan-gagasan biasanya diungkapkan secara abstrak dengan menggunakan kata, simbol maupun grafis.
d.      Prinsip-prinsip ilmu kognitif diterapkan selama pengembangan
e.       Belajar dapat berpusat pada pembelajar dengan tingkat interaktivitas tinggi.
4.      Multimedia
Multimedia atau teknologi terpadu merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan  beberapa jenis media yang dikendalikan komputer. Keistimewaan yang ditampilkan oleh teknologi multimedia ini, khususnya dengan menggunakan komputer dengan spesifikasi tinggi, yakni adanya interaktivitas pembelajarn yang tinggi dengan berbagai macam sumber belajar.
Pembelajaran dengan multimedia atau teknologi terpadu ini mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a.       Dapat digunakan secara acak, disamping secara linier
b.      Dapat digunakan sesuai dengan keinginan peserta didik, disamping menurut cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya.
c.       Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistik dalam konteks pengalaman peserta didik, relevan dengan kondisi peserta didik, dan di bawah kendali peserta didik.
d.      Prinsip-prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan dan pemanfaatan bahan pembelajaran.
e.       Belajar dipusatkan dan diorganisasikan menurut pengetahuan kognitif sehingga pengetahuan terbentuk pada saat digunakan.
f.       Bahan belajar menunjukkan interaktivitas peserta didik yang tinggi.
g.      Sifat bahan yang mengintegrasikan kata-kata dan contoh dari banyak sumber media[9]
B.     Fungsi Pengembangan Teknologi Pembelajaran PAI
Berikut ini adalah beberapa fungsi dari teknologi pembelajaran PAI sebagai berikut[10]:
  1. Sebagai sarana bahan ajar yang ilmiah dan obyektif.
  2. Sebagai sarana untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran.
  3. Sebagai sarana mempermudah penyampaian materi.
  4. Sebagai sarana untuk mempermudah desain pembelajaran.
  5. Sebagai media pendukung pelajaran dengan mudah
  6. Sebagai sarana meningkatkan keberhasilan pembelajaran.
  7. Sebagai sarana pendukung terlaksananya program pembelajaran yang sistematis
  8. Sebagai sarana untuk memotifasi peserta didik yang semangat belajarnya rendah.
  9. Sebagai sarana untuk membantu peserta didik mempresentasikan apa yang mereka ketahui
C.    Manfaat Pengembangan Teknologi Pembelajaran PAI
Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan media cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas. Selain itu,dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas pula.[11]
Dulu para ulama mengandalkan lisan untuk menyebarkan [risalah] penutup para nabi dan banyak dari mereka yang menghabiskan waktu berbulan-bulan berkelana dengan Kuda atau Onta untuk berbagi kabar gembira tentang Islam kepada yang lain. Usaha keras yang luar biasa, melelahkan, menghabiskan banyak waktu dan kesulitan besar merupakan keadaan yang bisa menganggu hal utama. Perang suku, cuaca yang tidak bersahabat, dan peralatan sederhana hanyalah beberapa kondisi yang sering menghambat usaha berpergian demi jalan dakwah
Dalam pelaksanaan kegiatan sehari- hari,  guru dan pelajar membutuhkan alat-alat pelajaran. Alat pelajaran adalah yang di pakai untuk di kelas. misalnya papan tulis, spidol, dan melihat perkembangan zaman di dunia modern ini, guru dituntut lebih kreatif menggunakan media yang lebih efektif dalam pembelajaran seperti TV, radio, komputer, internet, proyektor, dan lain sebagainya.
Mengenai manfaat teknologi pembelajaran PAI sangatlah banyak dan hal ini tergantung dari siapa yang memanfaatkannya.[12] Berikut adalah beberapa manfaat dari teknologi pembelajaran PAI bagi pendidik dan peserta didik:
1.      Manfaat bagi pendidik
a.       Pendidik dapat lebih memudahkan tercapainya tujuan pendidikan.
b.      Pendidik dapat mempermudah desain pembelajaran.
c.       Pendidik dapat menunjang metode pembelajaran.
d.      Pendidik dapat lebih meningkatkan efektifitas Pembelajaran.
e.       Pendidik lebih mudah menyampaikan materi pembelajaran.
f.       Pendidik dapat mengefisiensikan waktu.
g.      Dapat menjadi daya dukung pengajaran seorang pendidik.
2.      Manfaat bagi peserta didik
a.       Peserta didik menerima materi pembelajaran dengan senang.
b.      Peserta didik dapat mempresentasikan apa yang mereka ketahui.
c.       Peserta didik lebih bisa berekspresi dalam proses pembelajaran.
d.      Peserta didik tidak bosan dengan cara penyampaian materi pembelajaran secara verbal.
e.       Peserta didik dapat lebih cepat menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh pendidik.


BAB III
PENUTUP

A.    Analisis
Teknologi sekarang makin canggih dengan kecanggihan teknologi ini akan memudahkan siapa saja dalam melakukan aktifitas tersentu, dengan hadirnya pengembangan teknologi pembelajaran dapat  mempermudah proses belajar, meningkatkan keberhasilan pembelajaran, dapat mengefisiensikan waktu dan lain sebagainya. Pendidik dan peserta didik juga akan lebih mudah dalam pembelajaran dengan memakai teknologi keduanya dapat berinteraksi langsung dimanapun dan kapanpun.
Dengan memakain teknologi seperti internet, agar menggunakan dengan hati-hati sebab selamanya teknologi tidak akan memberikan hal-hal yang baik namun juga ada negatifnya tergantung siap yang memakai dan bagaiman cara memanfaatkanya
Di era modernisasi ini zaman bukanlah makin baik akan tetapi malah semakin buruk walaupun setiap hari ada kegiatan Islam namun  pada kenyataanya dapat dibuktikan. Makin majunya zaman makin maraknya kemaksiatan. Makin canggihnya teknologi makin maraknya pornografi, dan porno aksi.
Bangsa yang gandrung akan keamanan, kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, Bangsa yang selalu membutuhkan generasi-generasi yang siap menghadapi zamannya. Sehingga dapat mengatasi persoalan yang ada. Maju atau mundurnya bangsa tergantung para generasinya, jika pemuda pemudinya Berilmu Negara maju, jika pemuda pemudinya beriman Negara aman, jika pemuda pemudinya Jujur Negara makmur, jika pemuda pemudinya semangat Negara hebat, jika pemuda pemudinya beraklakul karimah Negara barokah, dan jika pemuda pemudinya bebas dari Narkoba Insya Alloh Negara tetap jaya.

B.     Kesimpulan
Pengembangan terknologi pembelajaran PAI adalah suatu cara atau metode yang sistematis yang diharapkan nantinya peserta didik dapat menerima materi Pendidikan Agama Islam dengan lebih baik, dengan rasa senang dan tanpa ada paksaan.
Kemudian ruang lingkup pengembangan teknologi pembelajaran ini meliputi; teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi berbasis komputer, dan multimedia.
Sedangkan fungsi pengembangan teknologi pembelaran diantaranya sebagai sarana bahan ajar yang ilmiah dan obyektif, meningkatkan efektifitas pembelajaran, mempermudah penyampaian materi, mempermudah desain pembelajaran, media pendukung pelajaran dengan mudah.
Sedangkan manfaat pengembaangan teknologi pembelaran untuk memudahkan tercapainya tujuan pendidikan, memudahkan mendesain  pembelajaran, dapat menunjang metode pembelajaran, dapat meningkatkan efektifitas Pembelajaran


DAFTAR RUJUKAN

Deni Darmawan, Teknologi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012
Hamzah, Perencanaan Pembelajarah, Jakarta: Bumi Aksara, 2009
Jurnal Ilmiyah Tarbiyah, Gagasan-Gagasan Pendidikan Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam  Negeri Tulunggagung, Juni 2001, hal. 3
Mohammad Arif, Teknologi Pendidikan, Kediri: STAIN Kediri Press, 2010
Nasution, Teknologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008
Seels Barbara dan Rita C Richey, Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya, Jakarta, PT  Unit Percetakan UNJ, 1994
Yusufhadi Miarso, Menyamai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011
Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, PT : Kancana Prenada Media Group, 2009



[1] Hamzah, Perencanaan Pembelajarah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 50
[2] Nasution, Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal. 1
[3] Mohammad Arif, Teknologi Pendidikan, (Kediri: STAIN Kediri Press, 2010), hal. 3
[4] Deni Darmawan, Teknologi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 7
[5] Ibid, hal. 7
[6] Ibid, hal. 8
[7] Seels Barbara dan Rita C Richey, Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya, (Jakarta, PT : Unit Percetakan UNJ, 1994), hal. 39
[8] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, ( Jakarta, PT : Kancana Prenada Media Group, 2009), hal. 134
[9] Ibid., hal. 43
[10] Yusufhadi Miarso, Menyamai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hal. 71
[11] Jurnal Ilmiyah Tarbiyah, Gagasan-Gagasan Pendidikan Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam  Negeri Tulunggagung, Juni 2001, hal. 3
[12] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan..., hal. 19

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, TEORI BELAJAR DAN MODEL KURIKULUM (Pengembangan Kurikulum PAI)

DAFTAR ISI

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
2.      Fokus Pembahasan
B.     PEMBAHASAN
1. Pengertian filsafat
2. Pengertian Teori-teori Belajar
3. Pengertian Model Kurikulum
4. Hubungan antara Filsafat, Teori Belajar, dan Model Kurikulum
C.     Analisis



















A.    Pendahuluan
1.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu yang lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut, banyak persoalan antara persoalan satu dengan persoalan lainya. Persoalan mendasar di Negara Indonesia mengenai krisis moral. padahal moralitas sebagai salah satu tolak ukur dan koridor perilaku serta segenap manifestasi dimensi sosial-kemanusiaan meniscayakan terhadap nilai-nilai kebaikan bersama. Akan bagaimanpu warna Negara jika moralitas suatu bangsa tidak sehat, tentu akan berefek bagi negara tersebut. Pendidikan dengan tujuannya yang ideal diharapkan menjadi media untuk melestarikan nilai-nilai moralitas tersebut.[1]
Berdasarkan UU  Nomor  20  tahun  2003  tentang  Sisdiknas,  pembelajaran  adalah  proses  interaksi peserta   didik   dengan   pendidik   dan   sumber   belajar   pada   suatu   lingkungan   belajar. diharapkan dengan belajar yang baik makan moralitas bangsa ini menjadi baik pula. dengan pemikiran para filosof terdahulu sedikit atau banyak akan mempengaruhi terhadap perkembangan-perkembangan pendidikan di masa selanjutnya. Teori-teori belajar yang dikenal pun tidak bisa dilepaskan dari berbagai aliran filsafat pendidikan sampai kemudian muncul berbagai model kurikulum yang dapat ditawarkan terhadap dunia pendidikan. Teori-teori belajar yang dikenal pun tidak bisa dilepaskan dari berbagai aliran filsafat pendidikan sampai kemudian muncul berbagai model kurikulum yang dapat ditawarkan terhadap dunia pendidikan. Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pengertia filsafat pendidikan, teori-teori belajar, model-model kurikulum dan hubungan antara ketiga komponen tersebut.
2.    Fokus Pembahasan
a.       Pengertian Filsafat
b.      Pengertian Teori-Teori Belajar
c.       Pengertian Model Kurikulum
d.      Hubungan Antara Filsafat Teori Belajar dan Model Kurikulum


B.  Pembahasan
1.      Pengertian Filsafat Kurikulum Pendidikan Islam
Filsafat kurikulum pendidikan Islam merupakan landasan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Di dalam kurikulum pendidikan Islam terdapat orientasi, pendekatan dan model pengembangan kurikulum didasarkan atas filsafat pendidikan Islam.[2]
Filsafat pendidikan Islam memiliki karakteristik yang berbeda dengan filsafat pendidikan yang lainya. ketika filsafat menjadi satu kesatuan dengan pendidikan Islam, kajian kefilsafatan dalam pendidikan Islam berlandaskan pada pandangan Islam. Pandangan Islam adalah prinsip-prinsip yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis yang dikembangkan oleh para mujahid dari waktu ke waktu. Sebagaimna firman Alloh;
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur ‘@ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ  
Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q. S Al Israa'; 36)[3]
Semua usaha perubahan yang dilakukan pasti dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Maka dari itu untuk menciptakan perubahan perlu dilandasi dengan nilai-nilai agama yang dapat dipertanggung jawabkan kelak. Pada dasarnya kajian filsafat kurikulum pendidikan Islam, objek kajiannya yaitu tuhan, manusia, dan alam. Dalam  kontek pendidikan, kajian pendidikan Islam pokok-pokok kajianya meliputi ontologi (pandangan mengenai hakikat realita yang di pelajari), epistemologi (pandangan mengenai pengetahua yang dipelajari), dan aksiaologi (padangan yang mengenai nilai yang di pelajari).[4]
Adapun aliran filsafat pendidikan yang paling dominan menguraikan tentang isi dari masing-masing aliran filsafat, yang kaitannya dengan pengembangan kurikulum sebagai berikut[5]:
Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna hidup. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu?
Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivism. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu. Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

2.      Pengertian Teori Belajar
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas. Teori belajar tidak-lah semudah yang dikira, dalam prosesnya teori belajar membutuhkan berbagai sumber sarana yang dapat menunjang proses belajar. adapun macam-macam teori belajar sebagai berikut:[6]
a.       Teori Thorndike; Teori ini memandang belajar sebagai suatu usaha memecahkan problem. Berdasarkan eksperimen yang dilakukannya ia memperoleh tiga buah hukum dalam belajar, yaitu law of effect, law of exerise, dan law of readiness
Law of effect menyatakan bahwa tercapaianya keadaan yang memuaskan akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respon. Hukum ini dapat bermanfaat dalam proses belajar-mengajar bila program pengajaran menghasilkan keuntungan bagi murid.
Law of exerise menyatakan bahwa respon terhadap stimulus dapat diperkuat dengan seringnya respons yang dipergunakan. Hal ini menghasilkan bahwa pengulangan dalam pengajaran adalah penting untuk dilakukan.
Law of readiness mengajarkan bahwa dalam memberikan respons subyek harus siap dan disiapkan. Hukum ini menyangkut syarat kematangan dalam pengajaran baik fisik maupun intelektual.
b.      Teori Skinner; Konsep teori  skinir ini terletak pada motivasi dalam belajar sangatlah penting, motivasi itu perlu untuk memperkuat hubungan antara stimulus dan respon. dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu “mekanisme” stimulus respons. yang berbeda adalah teknik-teknik yang mereka kembangkan untuk memperkuat respon dan stimulus.

3.      Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (impelementation), dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan. Sedangkan macam-macam model pengembangan kurikulum diantaranya;
a.       Model Beauchamp; Terdapat lima langkah yang mungkin dilakukan untuk mengembangkan kurikulum yaitu: (1) menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. (2) menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum misalnya tokoh masyarakat, ahli kurikulum dll. (3) menetapkan prosedur yang akan ditempuh yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi, dan  pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi.  (4) implementasi kurikulum, berkaitan dengan efektivitas penggunaan kurikulum seperti pemahan seorang guru pada kurikulum, sarana dan fasilitas, manajemen sekolah dan lain-lain. (5) melaksanakana evaluasi kurikulum yang menyangkut: pelaksanaan, desain, keberhasilan anak didik, dan system kurikulum[7]
b.      Model Ralp Tyler[8]; Menurut Tylermodel pengembangan kurikulum harus mengacu pada empat pertanyaan dasar yang harus di jawab yaitu:
1.      what educational purposes should the school seek to attain? (objectives). berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai.
2.      what educational experiences are likely to attain these objctives? (intruktional strategic and content/selecting learning experiences) Berkenaan dengan jenis pengalaman apa yang harus disediakan untuk mencapai tujuan.
3.      How can these education experiences be organized effectively? (organizing learning experiences). berkenaan dengan organisasi kegiatan atau pengalaman belajar yang dinilai efektif untuk mencapai tujuan
4.      How can we determine whether these purposes are being attain? (Assessment and evaluation). berkaitan dengan upaya mekanisme apa yang digunakan untuk mengetahui apakah tujuan sudah dicapai atau belum.
Dengan demikian, model pengembangan kurikulum Tyleritu ada 4 tahap yang harus dilakukan yaitu meliputi:
1)      Menentukan tujuan pendidikan.
2)      Menentukan pengalaman belajar yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
3)      Menentukan organisasi pengalaman belajar.
4)      Menentukan evaluasi pembelajaran untuk mengetahui apakah tujuan telah dicapai.
c.       Model Howard Nicholls Audedery
Model ini menitik beratkan pada pengembangan kurikulum yang rasional, kususnya kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi. fase analisis situasi ini merupakan sesuatu yang memaksa para pengembangan kurikulum untuk lebih responsif terhadap lingkungan dan terutama dengan kebutuhan anak didik. Langkah-langkah yang digunakan meliputi: (1) analisis situasi (3) pemilihan tujuan (4) pemilihan dan organisasi isi (5) evaluasi[9]


d.      Beauchamp’s System Model
Model pengembangan ini dikembangkan oleh Beauchamp dengan mengemukakan lima langkah pengembangan kurikulum, yaitu;
1.      Menetapkan are atau wilayah di mana kurikulum diperuntuk-kan, wilayah tersebut mencakup sekolah, kecamatan, daerah, kabupaten, propinsi, distrik, atau negara
2.      Menetapkan pihak-pihak yang akan terlihat dalam pengembangan kurikulum beserta tugas-tugas yang akan dilaksanakannya.
3.      Menentukan prosedur yang akan ditempuh, yakni perumusan tujuan (umum dan khusus), memilih isi dan pengembangan belajar, serta menetapkan alat dan jenis evaluasi
4.      Implementasi kurikulum. Agar implementasi kurikulum baru dapat berjalan dengan efektif, diperlukan dukungan dari berbagai sumber, seperti guru, biaya, sarana prasarana, manajemen dan lain sebagainya.
5.      Evaluasi kurikulum. kegiatan ini meliputi: (a) evaluasi pelaksanaan kurikulum oleh guru di sekolah (b) evaluasi terhadap desain kurikulum (c) evaluasi keberhasilan anak didik; dan (d) evaluasi sistem rekayasa kurikulum
e.       Model Peter F. Oliva[10]
Model kurikulum olivia ini terdiri dari tiga ciri utama, yaitu: sederhana (simple), Menyeluruh (Komprehensif) dan sistematis. walaupun model ini mewakili komponen yang paling penting, namun model ini dapat dapat diperluas menjadi model menyediakan detail tambahan dan menunjukkan beberapa proses yang menyediakan detil tambahan dan menunjukan proses yang yang diasumsiakan sebagai midel yang sederhana. model olivia ini memiliki enamam komponen, yaitu; (1) rumusan filosofis (2) rumusan tujuan umum (3) rumusan tujuan khusus (4) desain perencanaan (5) implementasi dan (6) evaluasi
4.      Hubungan Antara Filsafat, Teori Belajar, dan Model Kurikulum
Filsafat dapat dijadikan pengembangan teori belajar dan pengembangan model kurikulum. Filsafat bersifat universal, dapat digunakan dimanapun dan kapanpun. Pengembangan pendidikan melalui teori belajajar maupaun model kurikulum dapat kita kengembangan melalui filsafat pendidikan. Dengan demikian dapat ditekankan bahwa filsafat tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan, sebab filsafat itu merupakan jiwa bagi pendidikan[11]
Tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan mengunakan metode ilmiah semata-mata. Banyak diantara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang memerlukan Pendekatan filosofis pula dalam memecahkannya. Analisa filsafat terhadap masalah-masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori belajar dan model kurikulum. Disamping itu jawaban- jawaban yang telah dikemukakan oleh jenis dan aliran fisafat tertentu sepanjang sejarah terhadap problematika pendidikan yang dihadapinya, yang tentunya juga akan memperkaya teori-teori belajar. Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara filsafat dengan teori belajar, dan model kurikulum. Hubungan fungsional tersebut diantaranya ialah:
a.    Dalam arti analisa filsafat, filsafat adalah merupakan salah satu cara Pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori belajar, disamping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagai pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek. Misalnya filsafat idealisme, realisme, materialisme dan sebagainya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori-teori belajar yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori-teori belajar yang di kembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh fillosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.
b.    Filsafat juga berfungsi memberikan arah agar teori belajar yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata, artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori belajar dan kalau perlu juga merevisi teori belajar tersebut, yang sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
Oleh karena itu tori belajar dan model kurikulum harus disesuaikan untuk pembentukan kepribadian anak didik yang sesuai dengan nilai-nilai aqidan dan spritual kegaman yaitu menurut ajaran agama Islam. Pandangan filsafat menurut agama Islam tertung semuanga pada Al-qur’an yang dijadikan seabgai pegangan dan pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman.[12] Baik hidup, mati, kapan, dan dimanapun ia berada adalah kekuasaan dan kehendak yang maha kuasa yaitu Allah SWT.
Filsafat merupakan pertolongan yang sangat penting pula pengaruhnya terhadap seluruh sikap dan pandangan orang, karena filsafat justru hendak memberikan dasar-dasar yang terdalam mengenai hakikat manusia dan dunia. Sebagaiman forman Allah dalam Al Qur’an;
$tBur $oYø)n=yz uä!$yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur $tBur $yJåks]÷t/ tûüÎ7Ïè»s9 ÇÊÏÈ  
Artinya; dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main (Q. S Al Ambiya’; 16)[13]
Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya itu adalah dengan maksud dan tujuan yang mengandung hikmat. Ada beberapa hal yang penting dalam agama yaitu: Menyakini adanya Tuhan yang menciptakan semua yang ada dilangit dan dibumi dan mengatur semua kehidupan manusia, adanya kebajikan, sifat buruk dan baik dan lain sebagainya, juga diselidi oleh filsafat karena itu meurpakan atau mungkin ada secara umum kebenaran dalam agama didasarkan pada wahtu atau firman-firman Allah, sedangkan kebenaran dalam filsafat didasarkan pada pikiran belaka, agama telah mengaskan bahwa agama itu untuk orang-orang yang berakal dan berilmu pengetahuan. Maksudnya adalah dalam agama terutama gama Islam adanya aturan-aturan yang ditetapkan Allah, dimnaa aturah Allah adalah wajib, sunat, haram, makhru dan mubah. Jadi agama dan pendidikan merupakan dual yang saling berhubungan dan saling berkaitan, maksudnya adalah didalam agama ada aturan-aturan yang harus dipatuhi sedangkan dalam pendidikan juga ada aturan yang harus dipatuhi dan semua atuaran baik agama maupun pendiidkan dijalankan dan diterapkan oleh manusia.
Dimana dapat dikatakan hubungan filsafat dengan teori belajar dan model kurikulum dikatan baik manakala etiap orang sadar atas usaha-usaha pendidkan dalam membangun suatu bangsa guna mempersiapkan generasi muda dan warga negara untuk menjadi manusia yang mengerti atas segalahal dalam kehidupan ini dan menjadi warga negara yang sadar atas perubahan hidup yang lebih baik.


c.    Analisis
Filsafat kurikulum pendidikan Islam merupakan landasan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Filsafat berperan sangat penting dalam pengembangan kuikulum. Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum dan teori belajar dengan rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan teori belajar dan model kurikulum baik dalam bentuk terencana, terlebih dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
Pengembangan kurikulum dan pada tahap awal sangat dipengaruhi oleh ideologi negara, namun tidak berarti bahwa kurikulum bersifat statis, melainkan senantiasa memerlukan pengembangan, pembaharuan dan penyempurnaan disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan dan perkembangan zaman yang senantiasa cepat berubah.
Filsafat kurikulum pendidikan Islam pada dasarnya adalah penerapan dan pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang terjadi. seperti berubahnya kurikulum ktsp menjadi k13, dengan mengkaji filsafat lebih dalam berbagai permasalahan yang dihadapai manusia, kemungkinan besar dapat diatasi dengan lebih cepat.
Kurikulum memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.


DAFTAR RUJUKAN

Arifin, Muzayyin. 2012. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta; PT Bumi Aksara
 Depag, 2007. Al Quran Terjemah Pdf. Semarang; Cv. Toha Putra,
Fitri, Agus Zaenul. 2013. Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam. Bandung;  Alfabeta
 Jalaluddin, 2007. Filsafat Pendidikan, Jogjakarta; Ar-Ruzz Media
Muhajir, As’aril. 2011. Ilmu Pendidikan Pespektif Kontekstual. Jogjakarta; Ar-Ruz Media.
Patoni, Ahmad. 2004. Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta; PT. Bina Ilmu
 Zainuddin, 2008. Paradigma Pendidikan Terpadu. Malang; UIN-Malang Pres




[1] As’aril Muhajir, Ilmu Pendidikan Pespektif Kontekstual, (Jogjakarta; Ar-Ruz Media,  2011), hal. 31
[2] Agus Zaenul Fitri, Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam, (Bandung;  Alfabeta, 2013),  hal. 49
[3] Depag, Al Quran Terjemah Pdf, (Semarang; Cv. Toha Putra, 2007), hal. 421 
[4] Agus Zaenul Fitri, Manajemen Kurikulum..., hal. 53
[5] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta; PT Bumi Aksara, 2012), hal. 7
[6] Ahmad Patoni, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta; PT. Bina Ilmu, 2004), hal. 86
[7] Agus Zaenul Fitri, Manajemen Kurikulum...,  hal. 146
[8] Ibid., hal. 134.
[9] Ibid., hal. 142
[10] Ibid., hal. 147-148
[11] Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, (Jogjakarta; Ar-Ruzz Media, 2007), hal. 142
[12] Zainuddin, Paradigma Pendidikan Terpadu, (Malang; UIN-Malang Pres, 2008),  hal. 24
[13]  Depag, Al Quran Terjemah..., hal. 489